This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 12 Januari 2016

Kepuasan Kerja



Judul Jurnal      : Analisis Pengaruh Gaya Kepemimpinan Terhadap Kepuasan Kerja, Komitmen Organisasi Dan Kinerja Karyawan (Studi Empiris Pada Departemen Agama Kabupaten Kendal Dan Departemen Agama Kota Semarang).
Nama Jurnal       : Jurnal Studi Management dan Organisasi
Nomor Jurnal      : 2
Volume Jurnal     : 3
Halaman Jurnal   : 69

PENDAHULUAN
Kepuasan kerja adalah suatu teori atau konsep praktis yang sangat penting. Karena merupakan dampak atau hasil dari keefektivan performance dan kesuksesan dalam bekerja. Kinerja karyawan mengacu pada prestasi kerja karyawan diukur berdasarkan standard atau kriteria yang telah ditetapkan perusahaan. Pengelolaan untuk mencapai kinerja karyawan yang sangat tinggi terutama untuk meningkatkan kinerja perusahaan secara keseluruhan. Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan meliputi strategi organisasi, (nilai tujuan jangka pendek dan jangka panjang, budaya organisasi dan kondisi ekonomi) dan atribut individual antara lain kemampuan dan ketrampilan. Kinerja bisa meningkatkan kepuasan para karyawan dalam organisasi dengan kinerja tinggi daripada organisasi dengan kinerja rendah.

ANALISA
           
            Kepuasan kerja yang rendah pada organisasi adalah rangkaian dari menurunnya pelaksanaan tugas, meningkatnya absensi, dan penurunan moral organisasi.Sedangkan pada tingkat individu, ketidakpuasan kerja , berkaitan dengan keinginan yang besar untuk keluar dari kerja, meningkatnya stress kerja, dan munculnya berbagai masalah psikologis dan fisik. Berdasarkan hasil uji dari Departemen Agama Kota Semarang tentang kepuasan kerja, terbukti bahwa gaya partisipatif dan orientasi prestasi berpengaruh positif terhadap kepuasan kerja. Hal ini mengandung pengertian bahwa kepuasan dapat ditingkatkan apabila gaya partisipatif dan orientasi prestasi terus ditingkatkan. Kepuasan seseorang karyawan bisa karena pekerjaan yang menantang, ketertarikan terhadap pekerjaan tersebut, tidak melelahkan fisik, adanya penghargaan, kondisi kerja yang mendukung dan faktor-faktor lain yang menciptakan kepuasan kerja karyawan.
            Variabel gaya partisipatif dan orientasi prestasi merupakan variabel yang memiliki pengaruh terbesar dalam hubungannya dengan kinerja karyawan. Hal ini menunjukkan bahwa gaya partisipatif dan orientasi prestasi sangat mempengaruhi kepuasan kerja. Hasil pengujian ini memperkuat hasil penelitian empiris dari Griffin (1980), Mc Nesse-Smith (1990) yang menyatakan adanya korelasi positif antara sikap pimpinan dan perilaku kepemimpinan dengan kepuasan kerja.

KESIMPULAN

            Tinggi rendahnya kepuasan kerja, komitmen organisasi dan kinerja karyawan yang telah diungkap dalam penelitian ini tidak dapat dipisahkan dari peran yang dimainkan
oleh atasannya, atau perilaku kepemimpinan atasan. Tinggi rendahnya kepuasan kerja, komitmen organisasi dan kinerja karyawan yang telah diungkap dalam penelitian ini tidak dapat dipisahkan dari peran yang dimainkan oleh atasannya, atau perilaku kepemimpinan atasan.

Job Enrichment

Kelompok Pink

Alfiani Nurul

Dira Novie N

Ersa Aulia W

Glaudia Cendi I

Osa Dyahayu

Judul Jurnal : The Impact of Reward Management and Job Enrichment On Job Satisfaction among Employees In The Ogun State Polytechnics (Dampak Manajemen Imbalan dan Pengayaan Pekerjaan Pada Kepuasan Kerja antara Karyawan Dalam Ogun Politeknik)

Nama Jurnal : International Journal of Business and Management Invention

Volume & Issue : Volume 3 & Issue 3

Tahun : March 2014

Penulis : David Olusegun Aninkan

LATAR BELAKANG

Job Enrichment

Job Enrichment didefinisikan sebagai “merancang pekerjaan dengan cara yang meningkatkan kesempatan bagi pekerja untuk mengalami perasaan tanggung jawab, prestasi, pertumbuhan, dan pengakuan”. Job Enrichment adalah perubahan kualitatif untuk pekerjaan yang meningkatkan tingkat otonomi, umpan balik, dan pentingnya pekerjaan, yang memungkinkan pekerja untuk memiliki kontrol yang lebih baik dan umpan balik dalam pengaturan pekerjaan mereka.

Job Satisfaction

Job Satisfaction atau kepuasan kerja sebagai hal yang menyenangkan atau positif emosional negara yang dihasilkan dari penilaian orang-orang yang memiliki pengalaman dalam pekerjaan. Kepuasan kerja sebagai perasaan bahwa pekerja memiliki untuk pekerjaannya.

TUJUAN

Mengingat seluruh ambits manajemen sumber daya manusia, hampir tidak adalah setiap isu yang lebih penting, relevan, dan penting untuk seorang karyawan dari apa yang ia menerima dalam pertukaran untuk tenaga kerja dan jasanya kepada organisasi (Banjoko 2006). Pada hari ini, di antara tugas-tugas manajer adalah untuk menciptakan lingkungan yang memotivasi orang untuk melakukan memuaskan dan menjadi aset yang menguntungkan, sehingga mereka dapat mendorong pertumbuhan organisasi. Kepuasan kerja dan motivasi adalah dua bersaudara yang tak terpisahkan. Motivasi telah digambarkan sebagai akumulasi proses yang berbeda yang mempengaruhi dan mengarahkan perilaku kita untuk mencapai beberapa tujuan tertentu (Baron 1983, seperti dikutip dalam Denmark dan Usman 2010). Ini adalah dinamis seperti di hari ini lingkungan yang secara eksplisit menciptakan dan mencakup dampak positif pada pekerjaan. Motivasi berisi proses-proses psikologis yang menyebabkan arah gairah dan ketekunan dari tindakan sukarela yang tujuan diarahkan (Kreiter dan Kinicki 2004).

METODE PENELITIAN

Sebuah desain penelitian kuantitatif menggunakan survei dipekerjakan dalam penelitian ini. Studi ini meneliti efek dari manajemen reward dan pengayaan pekerjaan terhadap kepuasan kerja. Populasi penelitian terdiri dari semua staf akademik dan non akademik dari Moshood Abiola Politeknik, Abeokuta dengan populasi 693 staf, yang terdiri dari 460 staf akademik non dan 233 staf akademik. Daftar non akademik yang terkandung terutama juni atau staf, sementara daftar akademik murni staf senior.

HASIL PENELITIAN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan positif yang signifikan yang kuat antara berbagai keterampilan yang diberikan karyawan dan tingkat nya kepuasan kerja (r = 0,178, P <029). Ini berarti bahwa sebagai berbagai keterampilan yang tersedia untuk kenaikan karyawan, tingkat kepuasan kerja meningkat. Hipotesis 1 Karena itu diterima sebagai benar bahwa berbagai keterampilan karyawan memainkan peran langsung dalam meningkatkan tingkat kepuasan kerja di tempat kerja. Hipotesis 2 menyatakan bahwa identitas tugas karyawan berkorelasi positif dan signifikan dengan kepuasan kerja. Hasil penelitian menunjukkan positif hubungan seminggu tidak signifikan antara identitas tugas karyawan dan kepuasan kerja, (r = 0,033, P <0,68).

KESIMPULAN

Dilihat dari hasil penelitian, seseorang dapat sampai pada suatu kesimpulan bahwa karyawan di Ogun Politeknik lebih termotivasi oleh apa yang disebut faktor intrinsik Herzberg dari faktor higienis. Ini adalah konfirmasi dari Herzberg dua faktor teori motivasi (Herzberg, 1957-1968). Hal ini juga dapat disimpulkan bahwa kepuasan kerja dengan pekerja negara Ogun Politeknik, tidak berarti hal yang sama seperti komitmen. Ada masalah dengan sistem manajemen pahala politeknik, dan ada kebutuhan untuk review dari sistem reward ada. Pekerjaan di politeknik harus lebih diperkaya dengan membuat pekerjaan lebih menarik terutama bagi dosen. Hal ini dapat dicapai dengan meninjau dan memperbesar ruang lingkup saja individu silabus, menyediakan alat peraga yang relevan dan modern. Juga harus ada pelatihan reguler staf untuk meningkatkan atau di lipatan jumlah keterampilan yang individu menggunakan saat melakukan pekerjaan (yaitu berbagai Skill). Staf harus juga semakin terlibat dalam pengambilan keputusan dan diberikan kebebasan untuk memilih bagaimana dan kapan pekerjaan dilakukan (yaitu otonomi). Hal ini diperlukan terutama di kalangan dosen di lembaga.

Rabu, 06 Januari 2016

MOTIVASI


Nama Jurnal: Jurnal Manajemen dan Organisasi
Judul Jurnal: Pengaruh Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Wilayah Telkom (Witel Bekasi)
Volume: V
Nomor Jurnal: 3
Tanggal Jurnal: Desember 2014
Halaman Jurnal: 201-2013

PENDAHULUAN
Sumber daya manusia (SDM) penting bagi perusahaan karena memiliki peran sebagai potensi penggerak seluruh aktivitas perusahaan. Perusahaan yang memiliki SDM yang berkualitas dapat dengan mudah mengintegrasikan visi perusahaan dengan tujuan perusahaan kepada karyawannya sehingga pencapaian tujuan perusahaan bisa tercapai. Penelitian ini dilakukan di Wilayah Telkom Jabar Barat Utara (Witel Bekasi) dengan menggunakan motivasi kerja sebagai variabel independen dan kinerja sebagai variabel dependen. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana pengaruh motivasi kerja yang terdiri dari kebutuhan prestasi, kebutuhan afiliasi dan kebutuhan kekuasaan terhadap kinerja karyawan Witel Bekasi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dan kausal. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, analisis regresi linier berganda, uji hipotesis secara simultan (uji F), uji hipotesis secara parsial (uji t), dan koefisien determinasi. Teknik sampel yang digunakan adalah salah satu cara yang dapat dilakukan oleh perusahaan dalam meningkatkan kualitas kinerja adalah dengan memberikan perhatian berupa motivasi kerja kepada karyawannya. Selain itu, hal terpenting yang harus dilakukan oleh perusahaan adalah bagaimana karyawan dapat menikmati pekerjaannya sehingga karyawan dapat mengerjakan perkerjaannya tanpa ada tekanan. Berdasarkan hasil penelitian Suwardi dan Utomo (2011), Hamid (2012), Murti dan Veronika (2013), serta Permanasari (2013) ditemukan bahwa motivasi kerja secara signifikan memiliki pengaruh positif terhadap kinerja karyawan. Penelitian lain yang dilakukan oleh Salleh et al. (2011) serta penelitian dari Susan et al. (2012) juga menyatakan bahwa motivasi kerja memiliki pengaruh positif dan signifikan pada kinerja karyawan.
Dengan memiliki SDM yang unggul, perusahaan akan lebih mudah bersaing dalam dunia bisnis saat ini yang sudah mulai memasuki era globalisasi. Pada era globalisasi ini persaingan bisnis akan semakin ketat, karena tidak hanya bersaing dengan produk lokal saja tetapi juga dengan produk mancanegara yang diimpor ke dalam negeri. Persaingan bisnis ini juga berpengaruh pada industri telekomunikasi. Perusahaan telekomunikasi di Indonesia saat ini sudah semakin banyak, seperti PT. Telkom Indonesia, Tbk, PT. Indosat, Tbk, PT. XL Axiata, Tbk dan sebagainya. PT. Telkom Indonesia, Tbk sebagai perusahaan penyelenggara layanan telekomunikasi dan jaringan terbesar di Indonesia memiliki produk dan layanan yang beragam dan berhasil.

ANALISIS
Analisis dari jurnal ini adalah karyawan di PT Telkom Indonesia Tbk mendapatkan motivasi untuk mencapai tujuan perusahaan tersebut. Pencapaian tersebut dilakukan dengan menerapkan teori motivasi McClelland yaitu pertama kebutuhan prestasi yang meliputi inovasi, kreativitas, umpan balik, tantangan, semangat kerja; kedua kebutuhan afiliasi yang meliputi sosialisasi, hubungan antar pribadi, persahabatan; ketiga kebutuhan kekuasaan meliputi kompetisi, wewenang, kedudukan. Kebutuhan prestasi dapat terpenuhi dilihat dari bagaimana karyawan PT Telkom Indonesia Tbk menciptakan inovasi baru yang dapat dipergunakan dalam pencapaian target perusaahaan beriringan dengan kreativitas tentang bagaimana karyawan tersebut merealisasikan inovasi tersebut dengan umpan balik yang positif dan memberikan dampak positif bagi perusahaan seberat apapun tantangannya tidak akan terasa sulit bila karyawan memiliki semangat kerja yang tinggi dalam pencapaiannya. Kemudian kebutuhan afiliasi dapat terpenihi dilihat dari bagaimana karyawan bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. Terakhir kebutuhan kekuasaan dapat terpenuhi dilihat dari bagaimana cara karyawan berlomba-lomba untuk mencapai tujuan atau target perusahaan dengan caranya masing-masing dengan motivasi yang mereka miliki.



KESIMPULAN

Variabel motivasi kerja pada penelitian ini terdiri dari tiga variabel, yaitu Kebutuhan Prestasi (X1), Kebutuhan Afiliasi (X2) dan Kebutuhan Kekuasaan (X3). Berdasarkan hasil penelitian, variabel motivasi kerja secara simultan dan parsial memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan Witel Bekasi. Variabel kebutuhan afiliasi memiliki pengaruh yang paling besar terhadap kinerja yang dihasilkan oleh karyawan. Hal ini berarti bahwa semakin besar motivasi akan kebutuhan afiliasi yang terpenuhi maka akan semakin besar pula kualitas kinerja yag dihasilkan oleh karyawan Witel Bekasi. Variabel kebutuhan prestasi memiliki pengaruh terbesar kedua terhadap kinerja karyawan, hal ini berarti bahwa semakin tinggi motivasi karyawan akan kebutuhan berprestasi maka semakin tinggi pula kinerja yang akan dihasilkan oleh karyawan Witel Bekasi. Variabel kebutuhan kekuasaan memiliki pengaruh yang paling kecil terhadap kinerja karyawan, artinya karyawan Witel Bekasi tidak terlalu memerlukan motivasi kebutuhan kekuasaan untuk menghasilkan kinerja yang baik.

Rabu, 25 November 2015

Review film motivasi "Surat Kecil Untuk Tuhan"

PENDAHULUAN

Motivasi dapat dipandang sebagai fungsi, berarti motivasi berfungsi sebagai daya penggerak  dari dalam individu  untuk melakukan aktivitas tertentu dalam mencapai tujuan. Motivasi dipandang dari segi proses, berarti motivasi dapat dirangsang oleh factor luar, untuk menimbulkan motivasi dalam diri siswa yang melalui proses rangsangan belajar sehingga dapat  mencapai tujuan yang di kehendaki. Motivasi daipandang dari segi tujuan, berarti  motivasi merupakan sasaran stimulus yang akan dicapai. Jika seorang mempunyai keinginan untuk belajar suatu hal, maka dia akan termotivasi untuk mencapainya.

1. Definisi Motivasi
Sujono Trimo memberikan pengertian motivasi adalah suatu kekuatan  penggerak dalam perilaku  individu dalam perilaku individu baik yang akan menentukan arah maupun daya tahan (perintence) tiap perilaku manusia yang di dalamnya terkandung pula unsur-unsur emosional insane  yang bersangkutan.
Motivasi adalah usaha – usaha untuk menyediakan kondisi – kondisi sehingga anak itu mau melakukan sesuatu (Prof. Drs. Nasution). Motivasi merupakan kondisi atau energi yang menggerakkan diri karyawan yang terarah atau tertuju untuk mencapai tujuan organisasi perusahaan.
Robbins dan Judge mendefinisikan motivasi sebagai proses yang menjelaskan intensitas, arah dan ketekunan usaha untuk mencapai suatu tujuan. Motivasi sebagai proses mempengaruhi atau mendorong dari luar terhadap seseorang atau kelompok kerja agar mereka mau melaksanakan sesuatu yang telah ditetapkan.  

2. Teori Motivasi
     Teori Motivasi Maslow
          Teori Maslow Maslow dalam Reksohadiprojo dan Handoko (1996), membagi
          kebutuhan manusia sebagai berikut:
          1. Kebutuhan Fisiologis
              Kebutuhan fisiologis merupakan hirarki kebutuhan manusia yang paling dasar yang    
              merupakan kebutuhan untuk dapat hidup seperti makan,minum, perumahan, oksigen,
              tidur dan sebagainya.
          2. Kebutuhan Rasa Aman
              Apabila kebutuhan fisiologis relatif sudah terpuaskan, maka muncul kebutuhan yang            
              kedua yaitu kebutuhan akan rasa aman. Kebutuhan akan rasa aman ini meliputi    
              keamanan akan perlindungan dari bahaya kecelakaan kerja, jaminan akan  
              kelangsungan pekerjaannya dan jaminan akan hari tuanya pada saat mereka tidak  
              lagi bekerja.
          3. Kebutuhan Sosial
              Jika kebutuhan fisiologis dan rasa aman telah terpuaskan secara minimal, maka akan    
              muncul kebutuhan sosial, yaitu kebutuhan untuk persahabatan, afiliasi dana interaksi     
              yang lebih erat dengan orang lain. Dalam organisasi akan berkaitan dengan
              kebutuhan akan adanya kelompok kerja yang kompak, supervisi yang baik, rekreasi    
              bersama dan sebagainya.
          4. Kebutuhan Penghargaan
              Kebutuhan ini meliputi kebutuhan keinginan untuk dihormati, dihargai atas prestasi
              seseorang, pengakuan atas kemampuan dan keahlian seseorang serta efektifitas kerja
              seseorang.
          5. Kebutuhan Aktualisasi diri
              Aktualisasi diri merupakan hirarki kebutuhan dari Maslow yang paling tinggi.  
              Aktualisasi diri berkaitan dengan proses pengembangan potensi yang sesungguhnya
              dari seseorang. Kebutuhan untuk menunjukkan kemampuan, keahlian dan potensi
              yang dimiliki seseorang. Malahan kebutuhan akan aktualisasi diri ada  
              kecenderungan potensinya yang meningkat karena orang mengaktualisasikan
              perilakunya. Seseorang yang didominasi oleh kebutuhan akan aktualisasi diri senang
              akan tugas-tugas yang menantang kemampuan dan keahliannya.

3. Sinopsis Film
Film ini menceritakan Gita Sesa Wanda Cantika atau yang dikenal dengan nama panggilan  Keke, seorang gadis remaja berusia 13 tahun yang cukup beruntung, karena lahir dari keluarga yang sangat berada, memiliki dua orang kakak laki-laki yang bernama Chika dan Kiki, orang tua yang sangat menyayanginya walau sudah bercerai, dan juga Pak Yus, ajudan sang Ayah. Selain itu Keke juga dikelilingi enam sahabat karib yang selalu setia menemaninya dan hidupnya pun semakin lengkap dengan kehadiran seorang kekasih yang juga begitu menyayanginya, yaitu Andy.
Semuanya tampak begitu sempurna. Pada tahun 2003 kanker menghinggapinya, Keke adalah pengidap Rhabdomyosarcoma (kanker jaringan lunak) pertama di Indonesia. Gadis cantik itu pun berubah menjadi "monster" hingga terpaksa harus menjalani serangkaian kemoterapi dan radiasi hampir setahun lamanya, akibatnya, semua rambut Keke sedikit demi sedikit mulai rontok, kulitnya mengering, dan sering mual-mual. Ketekunan Keke dan keluarganya membuahkan hasil. Keke dinyatakan sembuh dan bisa kembali menjalani aktivitas seperti sedia kala.
Tak disangka, setahun kemudian, pada 2004, kanker itu kembali, lebih parah dan mematikan. Meskipun sudah ditolak di rumah sakit mana-mana, ayah Keke tidak pernah sekali pun menyerah untuk menyembuhkan anaknya, terbukti bahwa ia sanggup ke pedalaman bahkan keluar negeri hanya untuk menyembuhkan Keke. Meskipun ratusan dokter memprediksi bahwa hidup Keke tidak akan lebih dari tiga bulan, Keke berhasil bertahan untuk lebih dari setahun. Meskipun pada akhirnya, Keke harus menerima kenyataan bahwa ia memang tidak dapat disembuhkan karena kanker itu sudah terlalu menyebar. Keke meninggal dunia pada tanggal 25 Desember 2006. 

4. Review Film
            Berdasarkan  teori motivasi yang dikemukakan oleh Maslow, teori fisiologis apabila dikaitkan dengan film Surat Kecil Untuk Tuhan, Keke sebagai tokoh utama sebelum mengidap penyakit kanker jaringan lunak ia adalah seorang gadis remaja yang berasal dari keluarga yang berada. Kebutuhan sehari-harinya dapat dipenuhi seperti mendapatkan pendidikan, kebutuhan sehari-hari yang layak (makan, minum, hiburan).
            Berikutnya, teori rasa aman dapat dikaitkan dengan film tersebut pada saat seorang ayah memberi batasan kepada Keke untuk pergi ke sekolah pada saat ayahnya tau bahwa Keke mengidap penyakit kanker. Pada saat itu, ayah Keke tidak memberi tahu kondisi yang sebenarnya kepada Keke. Sempat Keke merasa aneh ketika ayahnya berperilaku yang tidak biasa seperti hal nya membatasi waktu bermain Keke, semua itu dilakukan oleh ayah Keke karena ayah Keke tidak ingin gadisnya itu merasa kelelahan. Semenjak ayah Keke mengetahui kondisi Keke, ayahnya menyuruh orang untuk selalu mengantar Keke ke sekolah agar Keke selalu ada dalam keadaan aman di kondisi yang sedang lemah.
            Selanjutnya, teori kebutuhan sosial dapat dikaitkan dengan film tersebut saat Keke dan teman-teman dekatnya sedang belajar bersama. Lalu rambut Keke rontok, Keke pun sedih karena melihat rambut Keke yang sudah hampir botak itu jadi semakin habis. Teman-teman Keke tidak tega melihat Keke bersedih, kemudian teman-teman Keke pun menggunting rambut mereka satu persatu dan memberikannya kepada Keke.
            Berdasarkan teori penghargaan, dapat dikaitkan dalam film tersebut Keke diberi hadiah boneka oleh pacarnya ketika Keke mampu bertahan dalam penyakitnya, tetap semangat dalam menjalani perawatan seperti selalu minum obat secara teratur dan makan yang banyak.
            Kemudian, berdasarkan teori aktualisasi diri dalam kondisi sakit Keke mampu mendapatkan prestasi belajar di sekolahnya dengan mendapatkan peringkat pertama. Dan guru-guru pun memberikan pujian atas kegigihan Keke. Keinginan Keke untuk bersekolah pun sangat besar, seringkali ayahnya melarag Keke untuk ke sekolah karena kondisinya sudah sangat parah. Tetapi, Keke bersikuku untuk tetap pergi sekolah untuk mengikuti Ujian Nasional.


KESIMPULAN

             Motivasi sebagai proses yang menjelaskan intensitas, arah dan ketekunan usaha untuk mencapai suatu tujuan. Motivasi sebagai proses mempengaruhi atau mendorong dari luar terhadap seseorang atau kelompok kerja agar mereka mau melaksanakan sesuatu yang telah ditetapkan.  Jadi dari film Surat Kecil Untuk Tuhan dapat disimpulkan bahwa teori motivasi Maslow yang mencakup teori fisiologis, teori rasa aman, teori kebutuhan sosial, teori penghargaan, dan teori aktualisasi saling berperan dan mempengaruhi. Seseorang dapat dikatakan mempunyai motivasi karena adanya keinginginan untuk mencapai sesuatu. Motivasi untuk sembuh dari seorang Keke yang mengidap penyakit kanker ia dapatkan dari keluarga dan sahabat-sahabatnya. Karena semua orang mendukungnya untuk sembuh dengan memberikan rasa nyaman, reward ,dll,  Keke selalu berjuang melawan sakitnya. 
 
SUMBER
Handoko, Hani T, Dr.MBA dan Reksohadiprodjo Sukanto, Dr. M.Com.1996. Organisasi Perusahaan. Edisi kedua Yogyakarta : BPFE
Cut Zurnali, 2004, Pengaruh Pelatihan dan Motivasi Terhadap Perilaku Produktif Karyawan Divisi Long Distance PT Telkom Tbk, Tesis, Unpad, Bandung

Rabu, 11 November 2015

Review Film : Exodus God and Kings



PENDAHULUAN
Kepemimpinan (leadership) merupakan suatu hal yang tidak dapat terlepas dari kehidupan kita sebagai suatu makhluk sosial. Dalam kehidupannya manusia selalu tidak terlepas dari apa itu yang dinamakan interaksi, baik itu dengan sesamanya mau lingkungan kehidupannya. Ketika suatu individu telah masuk dalam suatu lingkungan kelompok atau organisasi, manusia tersebut haruslah mampu menciptakan kondisi yang harmonis antar anggota kelompok atau organisasi yang dimasukinya.


REVIEW FILM: EXODUS GOD AND KINGS 
Film ini menceritakan tentang seorang anak yatim piatu dari Israel yang bernama Moses, dia dibesarkan oleh keluarga kerajaan Mesir (Moses/Musa adalah seorang Ibrani yang diadopsi oleh putri Firaun dan membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir). Pada awalnya, Musa dan Firaun bersahabat baik sampai dewasa. Musa yang merasa setelah 400 tahun masa perbudakan semakin memburuk dan terpikir olehnya untuk menghentikan hal tersebut.  Tapi sayang, Firaun menolak dan mengakibatkan mereka dulunya berteman menjadi berseberangan. Akhirnya Musa memimpin 400.000 budak dalam perjalanan manumental untuk melarikan diri dari Mesir. Meski begitu, Firaun yang kejam tidak merelakan kebebasan para budak-budaknya. Firaun segera mengerahkan pasukan untuk melawan musa. Dalam perang itu lautan dipenuhi darah dan mayat, sekaligus terjadi berbagai bencana alam. Namun Musa yakin dengan perjuangannya kerena mendapat dukungan dari Tuhan.


A. Teori X & Y dari Douglas McGregor
            Asumsi yang dikembangkan dalam teori X pada dasarnya cenderung negatif dan gaya kepemimpinan yang diterapkan dalam suatu organisasi adalah gaya kepemimpinan petunjuk (derective leadership style). Sementara itu, asumsi yang dikembangkan dalam teori Y pada dasarnya cenderung positif dan gaya kepemimpinan yang diterapkan adalah gaya kepemimpinan partisipatif (participative leadership style). Dalam teori X dan Y Douglas McGregor berusaha mengungkapkan bagaimana perilaku karyawan dalam bekerja dan sekaligus bagaimana gaya kepemimpinan yang dapat diterapkan dalam situasi lingkungan kerja yang berbeda, termasuk bagaimana komunikasi antarpribadi (manajer dan bawahan) tersebut dikembangkan dalam lingkungan kerjanya.
            Kaitannya dengan film ini adalah gaya kepemimpinan Firaun yang cenderung negatif, hal itu terlihat saat adegan Firaun memaksa rakyat-rakyatnya untuk memberi tahu dimana Musa berada dengan cara mengumpulkan setiap keluarga di lapangan kerajaan. Lalu anak-anaknya dan istrinya disandera, lehernya diikat dengan tali dan mereka disuruh berdiri di atas papan kayu. Apabila sang kepala keluarga tidak mau memberi tahu dimana keberadaan Musa maka papan kayu tersebut ditarik dan itu berarti anak-anak dan istrinya mati. Tetapi, Musa memiliki gaya kepemimpinan yang positif. Terlihat saat adegan Musa membantu mneyelamatkan budak-budak dengan menyebrang laut, Musa membelah laut dengan pedangnya agar para budak-budak dapat menyeberangi laut. Dan saat kamu Firaun ingin menyebrang, lautnya kembali seperti semula.



B. Teori Sistem 4 dari Sistem Likert
  • Sistem Otokratis Eksploitif
Pada sistem Otokratis Eksploitif ini, pemimpin membuat semua keputusan yang berhubungan dengan kerja dan memerintah para bawahan untuk melaksanakannya. Standar dan metode pelaksanaan juga secara kaku ditetapkan oleh pemimpin. Pemimpin tipe ini sangat otoriter, mempunyai kepercayaan yang rendah terhadap bawahannya, memotivasi bawahan melalui ancaman atau hukuman. Komunikasi yang dilakukan satu arah ke bawah .
            Kaitan dengan film ini berdasarkan teori tersebut adalah sorang pemimpin mempunyai keputusan terihat dari adegan saat Musa membentuk pasukan baru dengan cara mendidik budak budak untuk menjadi pasukan perang agar dapat melawan pasukan Fir’aun. Para budak pun mengikuti perintah Musa karena mereka pun merasa tertekan karna gaya kepemimpinan Fir’aun.
  • Sistem Otokratis Paternalistic
Pada sistem ini, Pemimpin tetap menentukan perintah-perintah, tetapi memberi bawahan kebebasan untuk memberikan komentar terhadap perintah-perintah tersebut. Berbagai fleksibilitas untuk melaksanakan tugas-tugas mereka dalam batas-batas dan prosedur-prosedur yang telah ditetapkan. Pemimpin mempercayai bawahan sampai tingkat tertentu, memotivasi bawahan dengan ancaman atau hukuman tetapi tidak selalu dan memperbolehkan komunikasi ke atas. Pemimpin memperhatikan ide bawahan dan mendelegasikan wewenang, meskipun dalam pengambilan keputusan masih melakukan pengawasan yang ketat
            Kaitan film ini dengan teori diatas adalah Musa terlihat menghargai pendapat bawahannya. Terlihat dari adegan saat ada seorang yang mengeluh saat ia di didik menjadi prajurit, budak tersebut merasa tidak mampu dengan didikan yang Musa berikan. Lalu, budak tersebut mengundurkan diri dari pasukan prajurit tersebut dan Musa pun memperbolehkan budak tersebut keluar dari pasukan prajurit yang ia bentuk.
  • Sistem Konsultatif
Pada sistem ini, Pemimpin menetapkan tujuan-tujuan dan memberikan perintah-perintah setelah hal-hal itu didiskusikan dahulu dengan bawahan. Bawahan dapat membuat keputusan–keputusan mereka sendiri tentang cara pelaksanaan tugas. Penghargaan lebih digunakan untuk memotivasi bawahan daripada ancaman hukuman. Pemimpin mempunyai kekuasaan terhadap bawahan yang cukup besar. Pemimpin menggunakan balasan (insentif) untuk memotivasi bawahan dan kadang-kadang menggunakan ancaman atau hukuman. Komunikasi dua arah dan menerima keputusan spesifik yang dibuat oleh bawahan.
            Kaitan film ini dengan teori diatas adalah saat Musa memberikan suatu perjanjian kepada budak budak bahwa apabila mereka menuruti cara Musa mereka akan terbebas dari jajahan kaum Fir’aun .
  • Sistem Partisipatif
Sistem partisipatif adalah sistem yang paling ideal menurut Likert tentang cara bagaimana organisasi seharusnya berjalan. Tujuan-tujuan ditetapkan dan keputusan-keputusan kerja dibuat oleh kelompok. Bila pemimpin secara formal yang membuat keputusan, mereka melakukan setelah mempertimbangkan saran dan pendapat dari para anggota kelompok. Untuk memotivasi bawahan, pemimpin tidak hanya mempergunakan penghargaan-penghargaan ekonomis tetapi juga mencoba memberikan kepada bawahan perasaan yang dibutuhkan dan penting. Pemimpin mempunyai kepercayaan sepenuhnya terhadap bawahan, menggunakan insentif ekonomi untuk memotivasi bawahan. Komunikasi dua arah dan menjadikan bawahan sebagai kelompok kerja.
            Kaitan film ini dengn teori diatas adalah terlihat saat Musa dan budak budak berperang dengan Fir’aun. Musa memiliki teman dekat dari salah satu budak tersebut, dia dijadikan seperti tangan kanannya Musa. Sehingga saat perang mereka dapat berkomunikasi dengan baik untuk memikirkan strategi selanjutnya dan dapat mengalahkan kaum Fir’aun.
C. Theory Of Leadership Pattern Choice (Tannenbaum dan Schmidt)
Tujuh “pola kepemimpinan” yang diidentifikasi oleh Tannenbaum dan Schmidt. Demokrasi (hubungan berorientasi) pola kepemimpinan yang ditandai oleh penggunaan wewenang oleh bawahan. Otoriter (tugas berorientasi) pola kepemimpinan yang ditandai oleh penggunaan wewenang oleh pemimpin. Perhatikan bahwa sebagai penggunaan kekuasaan oleh bawahan meningkat (gaya demokratis) penggunaan wewenang oleh pemimpin berkurang secara proporsional.
            Kaitannya dengan film ini terliha pada saat Firaun memaksa prajuritnya untuk tetap berada di pihaknya dan terus mencari cara bagaimana menjatuhkan Musa. seperti pada saat Firaun menyuruh prajuritnya untuk latihan tanpa henti agar dapat mengalahkan musa.
D. Modern Choice Approach to Participation (Vroom & Yetton)
Menurut teori ini gaya kepemimpinan yang tepat ditentukan oleh corak persoalan yang dihadapi oleh macam keputusan yang harus diambil.
            Kaitannya dengan film itu pada saat Musa menyuruh para kaum budak untuk pindah dari wilayah yang lama ke wilayah yang baru. Karena wilayah yang lama sudah di ambil alih oleh Firaun yang serakah.
E. Contingency Theory of Leaderhip dari Fiedler
Kepemimpinan tidak akan terjadi dalam satu kefakuman sosial atau lingkungan. Para pemimpin mencoba melakukan pengaruhnya kepada anggota kelompok dalam kaitannya dengan situasi-situasi yg spesifik. Karena situasi dapat sangat bervariasi sepanjang dimensi yang berbeda, oleh karenanya hanya masuk akal untuk memperkirakan bahwa tidak ada satu gaya atau pendekatan kepemimpinan yang akan selalu terbaik. Namun, sebagaimana telah kita pahami bahwa strategi yg paling efektif mungkin akan bervariasi dari satu situasi ke situasi lainnya.
Kaitannya pada saat Musa memutuskan untuk mengajak para budak menyebrang laut agar mereka tidak tertangkap oleh kaum Firaun karena, kaum Firaun sudah datang mendekat. Dan apabila kaum budak tertangkap oleh kaum Firaun maka mereka akan di bunuh satu-persatu.
F. Konsep Path Goal Theory of Leadership
Menurut model ini, pemimpin menjadi efektif karena efek positif yang mereka berikan terhadap motivasi kinerja dan kepuasan. Teori ini dianggap sebagai path-goal karena terfokus pada bagaimana pemimpin  mempengaruhi persepsi dari pengikutnya tentang tujuan pekerjaan, tujuan pengembangan diri, dan jalur yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan (Ivancevich, dkk, 2007:205).
            Kaitannya pada saat musa memberitahu para budak untuk menggunakan tameng dengan baik, agar dapat menahan perlawanan dari para kaum Firaun. Musa mendidik para budak dengan cara menyuruh para budak berbaris memegang tameng kemudian Musa mendorong mereka satu-persatu dari depan dengan keras dan cara itu berhasil membuat para budak menjadi prajurit yang kuat dan tangguh. Akhirnya Musa pun menggunakan cara yang sama untuk mendidik prajurit yang lain.

Jadi, menurut kelompok kami kepemimpinan itu adalah suatu bentuk dalam proses memengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Dalamkepemimpinan terdapat pemimpin yang selalu mengarahkan pengikutnya. Pemimpin biasanya selalu mendengarkan saran-saran atau pendapat pengikutnya demi kelancaran berjalannya suatu tujuan yang sudah direncanakan. Pemimpin juga biasanya akan memberikan penghargaan apabila pengikutnya dapat melakukan yang terbaik demi tujuan bersama dan memberikan motivasi kepada pengikutnya agar pengikutnya merasa adanya dukungan dari sang pemimpin.